Indonesia | English | Arabic
Jum'at, 19 Oktober 2018
Anda di : Home >> Artikel >> Posisi Dakwah Muhammadiyah dalam Dinamika Ummat

Artikel

Posisi Dakwah Muhammadiyah dalam Dinamika Ummat
» Selasa, 08 Mei 2018| 11:31 | Dibaca: 254 kali

Posisi Dakwah Muhammadiyah dalam Dinamika Ummat

BANTUL, Suara Muhammadiyah – Dakwah Muhammadiyah harus menjaga keseimbangan antara purifikasi dan dinamisasi. Dalam pemurnian, Muhammadiyah tidak pernah berhenti dari memurnikan ajaran aqidah, tauhid, dari syirik, khurafat, dan tahayul serta tidak pernah berhenti memurnikan ibadah dari segala macam bentuk bid’ah. Hanya saja dalam segi pemahaman dan pendekatannya harus membedakan masalah-masalah ushul (perkara pokok) dan furu’ (perkara cabang atau rincian dari hal ushul tadi) termasuk dalam aqidah.

Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Yunahar Ilyas, Lc, MA dalam pengarahan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Majelis Tabligh PP Muhammadiyah di Hotel Dafam Rohan Bantul, Yogyakarta, Jum’at (4/5/2018). Sebanyak 28 Majelis Tabligh PWM, Lembaga, Ortom tingkat pusat serta media persyarikatan menghadiri Rakornas yang bertajuk “Membangun Dakwah Berkemajuan Menuju Indonesia yang Berkeadaban” tersebut.

Menurut Yunahar, Majelis Tabligh perlu memperbaharui metode dakwah untuk memantapkan posisi dakwah Muhammadiyah dalam dinamika ummat saat ini. “Alhamdulillah saya dengar dari ustadz Fathur, Majelis Tabligh sudah memasuki dunia itu, dunia media sosial tapi kecepatannya belum cukup, produktivitasnya, terutama kuantitasnya,” tuturnya.

Baca juga: Rakornas Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Membangun Dakwah Berkemajuan

Selain itu, Guru Besar Ulumul Qur’an UMY tersebut mengatakan, pengurus Majelis Tabligh juga harus memahami betul karakteristik faham agama dalam Muhammadiyah. “Muhammadiyah itu berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, tidak terikat dengan aliran teologis manapun, mazhab fikih manapun, dan tarikat sufi’ah manapun,” kata Yunahar.

Yunahar menguraikan, dalam segi fikih Muhammadiyah tidak terikat dengan mazhab fikih yang empat atau salah satu dari yang empat yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad. Kalau ada yang berbeda, kata Yunahar, Muhammadiyah mentarjih antara dalil dengan dalil, atau antara istidlal  dengan istidlal, bahkan antara qaul dengan qaul. “Tidak benar tarjih itu adalah mazhab, tapi itu adalah manhaj, oleh sebab itu namanya bukan fikih mazhabi tapi fikih manhaji,” terangnya.

Kemudian Ia menyampaikan tentang hasil Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia yang diselenggarakan oleh Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban (UKP-DKAAP). Forum yang dipimpin Prof Dr Din Syamsuddin tersebut melahirkan keputusan yang dinamakan Pesan Bogor (Bogor Message) 3 Mei 2018.

mengenali dan menghormati perbedaan dalam semua aspek kehidupan; (4) Shura, berkonsultasi dan mengatur masalah melalui musyawarah untuk mencapai mufakat; (5) Islah, terlibat dalam tindakan yang reformatif dan konstruktif untuk kebaikan bersama; (6) Qudwah, merintis inisiatif mulia dan memimpin untuk kesejahteraan; dan (7) Muwatonah, mengakui negara bangsa dan menghormati kewarganegaraan.

Ia juga meminta Majelis Tablih bukan hanya Korps Mubaligh yang mengirimkan da’i-da’i, tetapi juga menyiapkan hal-hal strategis seperti modul-modul, pelatihan-pelatihan mubaligh dan instruktur. Selain itu, jika mubaligh ikut pelatihan instruktur mubaligh, harus menjadi instruktur bukan hanya mubaligh saja dan harus ada transfer ilmu yang berjenjang. “Jadi mekanisme organisasi itu bisa jalan, disamping memenuhi undangan-undangan” pungkasnya.(rizq)

 


Comment:


Add New Comment:


Nama: *

Email / HP:

Komentar: *

characters left


Enter code *